Pentingnya Pendidikan Rasa Malu


Keterpurukan Indonesia semakin tidak dapat di tolelir, dehidrasi keimanan mengantarkan negeri yang mayoritas masyarakatnya muslim ini meninggalkan aturan Sang Penciptanya. Parahnya lagi sistem pemerintahan negeri ini berkiblat demokrasi barat yang menyesatkan. Lengkap sudah problematika bangsa yang dulunya pernah menjadi Macan Asia. bangsa yang kala itu sangat menjunjung rasa malu sebagai landasan kesantunan dan norma budaya yang luhur dan tersohor.

Penyelesaian kasus korupsi tidak akan berlarut-larut apabila setiap pihak yang terkait lembaga peradilan menjunjung rasa malu. Sandiwara persidangan yang bertele-tele membuktikan permainan licik para elite politik demi mengamankan kursinya yang empuk di pemerintahan. Inilah salah satu faktor yang mendorong lahirnya generasi “gayus” dan premanisme berdasi di Negera Kesatuan Republik Indonesia.
Sebenarnya dengan malu berbohong akan menguak konspirasi politik yang mendalangi maraknya tindak korupsi oleh pejabat veteran negeri ini. Seandainya mereka yang bersidang punya rasa malu, tentu mereka tidak akan memberikan kesaksian palsu. Disinilah bukti punahnya kejujuran dan maraknya kemunafikan yang dipertontonkan kaum elite negeri ini dengan tanpa rasa malu.
Berbicara lebih jauh akan kinerja lembaga peradilan bangsa Indonesia, sungguh-sungguh masih jauh dari apa itu yang disebut menjunjung rasa malu. Bagaimana tidak, terlalu banyak hakim yang dengan confidence meringankan hukuman para terdakwanya meski terbukti melakukan pencurian uang rakyat bernilai milyaran bahkan triliunan rupiah. Sebaliknya tanpa rasa perikemanusiaan, hakim-hakim tersebut memvonis rakyat kecil dengan hukuman berat meski hanya mencuri sebonggol jagung.
Konflik yang masih hangat di tubuh PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) menjadi bagian dari hilangnya rasa malu, yang mana  imbasnya kekalahan memalukan 10 gol tanpa balas yang dialami timnas Garuda Indonesia  di ajang kualifikasi pra-piala dunia 2014, saat berlaga di kandang Bahrain (29/2/2012). Dan kekalahan ini merupakan prestasi terburuk sepanjang sejarah sepakbola Indonesia. Herannya, para elite PSSI hingga detik ini tidak satupun yang rela untuk direformasi.
Sementara itu, gemerlap dunia selebritis yang menjadi kiblat gaya hidup generasi muda semakin jauh dari rasa malu. Berpakaian seronok menjadi trend yang digembar-gemborkan melalui aksinya di depan layar kaca. Ditambah lagi kebiasaan bergonta-ganti pasangan yang dengan bangga mereka publikasikan. Alhasil, hamil diluar nikah merupakan konsekuensi yang lumrah bagi mereka demi popularitas semata.
Tidakkah kita malu ketika melihat seorang Indra Azwan yang rela berjalan kaki dari Malang ke Jakarta bahkan akan ke Palembang, Dumai, Malaysia, Thailand, Myanmar, India, Pakistan, Iran, Kuwait, Riyadh, hingga ke Mekkah demi mencari keadilan yang sudah 19 tahun diperjuangkannya tanpa hasil di Indonesia. Sedangkan oknum kepolisian yang telah merenggut nyawa putranya masih bebas tanpa jeratan hukum yang menyapanya.
Seandainya rasa malu itu kembali tumbuh subur dalam diri setiap rakyat Indonesia, akar masalah yang tak kunjung berakhir di negeri ini dengan sendirinya mungkin akan terurai tanpa syarat. Tiada lagi penyimpangan perilaku dari masing-masing individu karena malu pada Allah SWT yang mengawasinya setiap saat.

Urgensinya Rasa Malu bagi Indonesia
Terkikisnya rasa malu bisa dikarenakan pemahaman yang sempit akan arti kata malu. Berdasarkan penjelasan diwww.artikata.com menyatakan bahwa malu adalah merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dan sebagainya) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dan sebagainya). Malu sebagai bagian dari nilai-nilai kebenaran (QS. Al-Ahzab : 53) sudah barang tentu akan memupuk kejujuran yang sejatinya dimiliki oleh naluri setiap manusia.
Malu dapat mendorong seseorang menjadi jujur karena ada ketidaknyamanan yang dirasakan apabila dia berbohong. Malu juga mengantarkan seseorang bersikap profesional dengan apa yang menjadi tanggungjawabnya, artinya seseorang akan malu jika dia lalai atau gagal dalam menjalankan tugasnya. Dan malu akan menciptakan keharmonisan bermasyarakat karena ada penghargaan diantara mereka yang menjunjung sopan santun.
Gerakan membangun kesantunan yang menyeluruh bagi seluruh rakyat Indonesia dapat diawali dari penanaman rasa malu sejak dini. Karakter malu akan berbohong, malu berbuat curang, malu menindas orang lemah dan malu mencuri mesti menjadi kurikulum di dunia pendidikan. Sedangkan bagi senior bangsa yang mengusai kursi pemerintahan hendaknya merevitalisasikan rasa malu dalam dirinya, karena sepak terjangnya selama ini telah menunjukkan pudarnya rasa malu secara masal.
Pendidikan rasa malu harus senantiasa diterapkan dimana dan kapanpun manusia itu berada. Mulai dari lembaga pendidikan, pemahaman rasa malu harus meresap dalam diri setiap murid, siswa maupun mahasiswa. Lembaga-lembaga swasta ikut andil bagian dengan mengampanyekan rasa malu pada semua elemen lembaga tersebut. Dan bagi pemerintah terutama lembaga peradilan sangat urgent untuk membangun mental malu berbuat kecurangan yang telah merugikan rakyat kecil.
Yang tidak kalah pentingnya adalah figur seorang pemimpin bangsa dalam hal ini seorang presiden harus mempunyai basic akan pemahaman dan penerapan rasa malu. Dengan menjunjung rasa malu, seorang Presiden dapat bersikap tegas dan berwibawa demi melawan ciutnya nyali sehingga tidak lagi diolok-olok rakyatnya.
Kewibawaan bukannya pencitraan, karena wibawa menjadikan seseorang dihormati baik di depan maupun di belakangnya, sementara pencitraan hanya mejadikan seseorang dihormati bila di depannya namun akan dihina dan diremehkan jika sedang dibelakangnya. Inilah potret bangsa Indonesia yang telah penuh sesak oleh penjilat-penjilat kekuasaan yang telah mati rasa malunya.
Memahami rasa malu sesuai dengan porsinya merupakan sebuah langkah awal dalam membangun kembali norma-norma kejayaan bangsa Indonesia yang pernah mewarnai nusantara dimasa lalu. Masyarakat yang menjunjung rasa malu tentu memiliki batasan dalam melakukan apapun sehingga control sosial dapat berfungsi sesuai kaidahnya. Keimanan yang mendasari rasa malu dapat mengokohkan peradaban mulia umat dalam bingkai kehidupan berbangsa dan negara.
Endingnya, keterpurukan Indonesia sudah terlalu dalam meninggalkan permukaan kejayaan sebagai bangsa yang beradab. Dan semestinya instropeksi dan rekonstruksi besar-besaran menjadi bahasan utama para pemegang kebijakan pemerintah yang sedang bertugas kini. Selanjutnya kebijakan baru yang telah terekonstruksi diterapkan secara merata bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan mustahil masa yang akan datang Indonesia menjadi negara adidaya yang disegani.

0 komentar:

Poskan Komentar

Glitter Text Maker
-

 

Copyright © 2010 • SEKOLAH INTEGRAL • Design by Mr.Zen